Pelatihan Motivasional untuk BKM, Relawan, Up-UP dan Perangkat Desa/Kelurahan

Sambutan Pelatihan Motivasional oleh Bupati Jepara

Pelaksanaan Kegiatan Fisik

Salah satu kegiatan fisik PNPM MP Kabupaten Jepara yaitu Pembangunan Jalan Rabat Beton

Monitoring dan Evaluasi dari Pemda Kab Jepara

Kunjungan ke lapangan untuk melihat hasil kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan di Kabupaten Jepara

Kegiatan Sosial

Pelatihan Tata Boga yang difasilitasi oleh PNPM MP Kabupaten Jepara

Kunjungan Bupati Jepara

Kunjungan Bupati Jepara ke salah satu desa pelaksana kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan

Tampilkan postingan dengan label Infrastruktur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Infrastruktur. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 November 2011

Kegiatan Survey dan Koordinasi Pra Konstruksi

Desa Welahan, Kecamatan Welahan adalah salah satu sasaran kegiatan PNPM, Desa ini merupakan klasifikasi sasaran PNPM-MP lokasi baru 2009. Pada implementasi BLM, Desa Welahan merupakan salah satu Desa yang terlambat dalam akses dana BLM 2009 putaran pertama untuk terminasi dana APBD, hal tersebut dikarenakan adanya keterbatasan DIPA 2009 dan DIPA 2010 sharring APBD Kabupaten Jepara.

Pada tahun 2011 ini, Pemdes, BKM maupun Masyarakat Desa Welahan kembali mendapatkan angin segar dengan adanya kabar ketersediaan DIPA 2011 untuk pemenuhan sharring dana APBD BLM 2009 putaran pertama. Dengan semangat bahwa masyarakat Desa Welahan kembali dapat melanjutkan pemanfaatan BLM untuk kegiatan infrastruktur dalam usaha peningkatan pembangunan dan upaya penanggulangan kemiskinan. Setelah melewati beberapa proses dan tahapan dalam mekanisme RPD (Rencana Penggunaan Dana) dengan pedoman PJM Pro-nangkis, akhirnya disepakati untuk wilayah RT. 04 RW. 01 mendapatkan kesempatan melaksanakan pemanfaatan dana BLM melalui kegiatan KSM. Pada kesempatan tersebut KSM Adem Ayem RT. 04 RW. 01 mengakses kegiatan pembangunan jalan paving dan saluran air. Dalam upaya tindak lanjut Pra Konstruksi maka Petinggi, BKM, UPL, Tim Faskel dan Masyarakat yang terwakili KSM melakukan kegiatan Survey lokasi, Pengukuran serta koordinasi kegiatan.

Kegiatan ini merupakan mekanisme di bidang Infrastruktur, setelah tahap Pra-Konstruksi masyarakat akan di ajak untuk berperan lebih lanjut dalam tahap Pelaksanaan Konstruksi melalui berbagai peranan, dengan harapan akan di dapatkan keberhasilan tujuan dari Pembangunan dan Program Pasca Konstruksi.

Dengan harapan besar seluruh pelaku PNPM-MP dan Masyarakat Desa Welahan, dapat segera mengakses BLM sharring dana APBD BLM 2009 putaran pertama di DIPA 2011 ini, sehingga semangat masyarakat dalam membangun tetap terjaga terhadap impian kebutuhan pembangunan di wilayahnya. Kegiatan ini menumbuhkan akses menuju ke penyadaran kritis masyarakat atau menumbuhkan kesadaran terhadap lingkungan sekitar yang berdampak pada tatanan kehidupan sosial untuk merangsang giatnya sektor ekonomi yang berdampak pada bidang pendidikan melalui kegiatan Infrastruktur
(Wawan & Tatang , Tim 10 Jepara)

Senin, 03 Oktober 2011

Peran Serta Perempuan dalam Kegiatan Infrastruktur

Pada awalnya sebelum kegiatan pembangunan jalan ini dimulai dibentuklah KSM dengan nama KSM Sido Lancar dengan maksud dan tujuan supaya nanti waktu pelaksanaan bisa berjalan lancar. Ikut didalamnya para ibu-ibu dengan harapan supaya jalan yang ada disekitarnya bisa bagus terutama ibu suriah yang memelopori ibu-ibu di RT setempat tak ketinggalan juga ibu suni dan kasbun meskipun di KSM beliau berada di seksi konsumsi namun antusianya demi terwujudnya jalan yang ada disekitarnya menjadi lebih baik beliau siap terjun untuk gotong-royong bila nanti pelaksanaan

Warga Batukali (RT 2 RW IV) juga mempunyai Kas RT yang dikumpulkan setiap pertemuan rutin RT untuk mendukung kegiatan yang ada di RT tersebut. Dari kas RT inilah swadaya bisa terkumpul. Selain itu setelah nanti pelaksanaan berlangsung warga juga siap untuk iuran lagi sebagai bentuk swadaya kegiatan ini apalagi panen pada kesempatan kali ini terbilang cukup baik menambah semangat bagi warga RT 2 RW IV yang sebagian besar mereka penghasilannya dari bertani

pembangunan jalan mulai dilaksanakan dengan diawali rembug warga setempat untuk menyepakati teknis pelaksanaan maupun kebutuhan lainnya. Karena lokasi berada di tengah-tengah antardesa yang berbeda maka disepakati dibentuk dua RT maka panitia pelaksana terdiri dari para ketua RW, ketua RT, tokoh masyarakat, dan khalayak warga. Para ibu, kaum perempuan, termasuk gadis-gadis remaja, yang piawai dalam urusan masak-memasak, terlibat sejak awal kegiatan — bahkan sebelum pekerjaan utama dimulai. Mereka mengurusi terutama konsumsi dan administrasi keuangan.

Karena pada siang hari sebagian warga sibuk bekerja mencari nafkah, maka mereka memulai pekerjaan ini pada sore hari dan dilanjutkan hari minggu untuk diadakan gotong-royong terlihat disini antusiasme dari kaum perempuan dalam kegiatan tersebut. Ini membuktikan bahwa perempuan tidak hanya di dapur saja tapi mereka juga siap dalam bekerja seperti layaknya laki-laki bahkan dengan adanya ibu-ibu perempuan yang ikut memegang cangkul dan ember semakin menambah semangat para pemuda dalam kegiatan gotongroyong tersebut.

Pekerjaan pengaspalan ini selesai dibangun selama kurang lebih 1 hari, sampai Jalan tersebut juga sebagai pendukung sebagai kawasan prioritas di PLPBK karena didesa ini juga mendapat program PLPBK. Dalam pelaksanaannya kegiatan Pembangunan jalan ini menghabiskan dana kurang lebih Rp 11,750,000.00 juta. Dari jumlah itu sebesar Rp 4,600,000.00 merupakan BLM PNPM-MP Tahun 2009 Termin III

Hasil konkret yang dicapai dari kegiatan ini adalah terbangunnya Jalan rabat beton yang semakin kuat, berukuran panjang 170 m dan lebar 2,5 m. Jalan Rabat Beton ini bisa dilewati mobil berukuran kecil sampai sedang dengan tanpa kesulitan.

Selain fisik bangunan juga kegiatan ini menghasilkan rasa kebersamaan dan gotong royong masyarakat yang sangat baik baik laki-laki maupun perempuannya hal ini dibuktikan dengan suksesnya kegiatan ini. Kegiatan ini mustahil berhasil bila rasa tersebut tidak muncul di masyarakat. Karena persinggungan yang guyub-rukun itulah proses pembangunan berjalan.

Untuk menjaga keberlanjutan dan memperpanjang umur (lifetime) jalan, maka disepakati pengelolaan perawatan dibebankan kepada organisasi RT/RW setempat.Misalnya lewat kerjabakti insidentil. Dan jika memerlukan dana, itu diambilkan sebagian dari iuran pembangunan bulanan yang memang sudah menjadi tradisi penggalangan swadaya selama ini. Ada pula pemikiran penerapan biaya portal, khususnya bagi kendaraan roda empat yang membawa beban kapasitas penuh

Pembangunan Jalan Paving Desa Robayan

Pada awalnya, jalan yang terletak di RT 06/RW 01 ini hanyalah jalan tanah biasa, dengan kondisi yang kalau hujan becek dan sering banjir sehingga mengganggu aktivitas masyarakat. Kondisi seperti ini mendorong keinginan warga untuk membangun jalan yang bisa dilalui pejalan kaki, sepeda motor maupun mobil.

Warga Robayan, khususnya Rt 06/Rw 01 kemudian menabung cukup lama, sebagai bentuk swadaya, melalui mekanisme paguyuban warga. Ketika dana yang terkumpul jumlahnya cukup memadai, kegiatan pembangunan jalan tidak kunjung dimulai karena kesibukan warga. Pada kondisi ini sesungguhnya yang terjadi adalah “tidak adanya mekanisme inisiasi”, suatu mekanisme yang merubah niat menjadi tindakan. Di samping itu ada sedikit masalah tentang lahan warga yang menolak apabila sebagian tanahnya terkena ptoyek paving ini.

Itu semua berubah dengan hadirnya program PNPM-Mandiri Perkotaan di desa Robayan. PNPM-MP sungguh menjadi pemicu bagi kebangkitan serempak di kedua sisi Sungai Karanggungan yang menjadi batas kedua desa itu. Mengapa ini bisa terjadi? Karena kaidah keproyekan yang memiliki batas waktu, target capaian, persyaratan teknis, telah menjadi cambuk bagi bergulirnya proses pekerjaan secara terstruktur dengan melibatkan sumberdaya dan sumberdana yang sudah ada. Dan berkat adanya swadaya dana dari warga, maka tanah yang bermasalah tersebut akhirnya dibeli dan digunakan untuk kegiatan jalan paving juga.
Hal itu pula yang bisa menjelaskan bagaimana kontribusi bantuan langsung masyarakat (BLM) PNPM-MP yang sebesar Rp 20 Juta dapat menghimpun swadaya hampir 40%.

Bulan Maret 2011 pembangunan jalan mulai dilaksanakan dengan diawali rembug warga setempat untuk menyepakati teknis pelaksanaan maupun kebutuhan lainnya. Karena lokasi berada di tengah-tengah desa yang berbeda maka disepakati dibentuk panitia pelaksana terdiri dari para ketua RW, ketua RT, tokoh masyarakat, dan khalayak warga. Para ibu, kaum perempuan, termasuk gadis-gadis remaja dan juga anak2 kecil, yang piawai dalam urusan masak-memasak, terlibat sejak awal kegiatan — bahkan sebelum pekerjaan utama dimulai. Mereka mengurusi terutama konsumsi dan administrasi keuangan.
Karena pada siang hari sebagian warga sibuk bekerja mencari nafkah, maka mereka memulai pekerjaan paving ini pada sore hari dan dilanjutkan malam hari bahkan sampai tengah malam, mereka tetap semangat mengerjakannya.
Pekerjaan paving ini selesai dibangun selama kurang lebih 1 minggu, sampai ke tingkat sempurna seperti sekarang ini. Jalan tersebut rencananya akan diresmikan pada pertengahan bulan Maret 2011 ini

Dalam pelaksanaannya kegiatan Pembangunan jalan ini menghabiskan dana kurang lebih Rp 25.375.000. Dari jumlah itu sebesar Rp 20 juta merupakan BLM 3 tahap 3 PNPM-MP Tahun 2009. Dengan demikian swadaya masyarakat tercurah sebanyak Rp 5.375.000. Untuk diketahui, itu semua murni dari warga.

Untuk menjaga keberlanjutan dan memperpanjang umur (lifetime) jalan, maka disepakati pengelolaan perawatan dibebankan kepada organisasi RT/RW setempat.Misalnya lewat kerjabakti insidentil. Dan jika memerlukan dana, itu diambilkan sebagian dari iuran pembangunan bulanan yang memang sudah menjadi tradisi penggalangan swadaya selama ini. Ada pula pemikiran penerapan biaya portal, khususnya bagi kendaraan roda empat yang membawa beban kapasitas penuh.

Bicara mengenai pemanfaat, jalan ini digunakan bukan hanya oleh warga setempat tapi juga warga wilayah RT/RW lain yang berdekatan. Sebab, jalur ini memang membuka akses yang semula terkendala karena Becek dan sering banjir, untuk menuju ke pusat desa atau menuju kantong-kantong kegiatan ekonomi (lahan pertanian), pendidikan (sekolah, tempat kursus), sosial (masjid/musholah), dan jalur keluar yang terdekat.
(Tatang & Wawan-Tim 10 PNPM MP Jepara)

Selasa, 26 Juli 2011

Pengaspalan Jalan Kuwasen


Pada awalnya, jalan ini hanyalah jalan tanah biasa, dengan kondisi tanjaan cukup tajam yang kalo hujan becek dan sering banjir sehingga sangat membuat warga bosan dan resah. Jalan itu hanya bisa dilalui wargaga sekitar saja.Padahal jalan itu bisa digunakan sebagai jalan lintas yang cepat. Kondisi seperti ini mendorong keinginan warga untuk membangun jalan yang bisa dilalui pejalan kaki, sepeda motor maupun mobil — yang tidak becek dan banjir yang.


Warga Kuwasen RT 03 RW 01kemudian menabung cukup lama dan Menebang pohon jati disekitarnya untuk dijul sebagai uang sebagai bentuk swadana, melalui mekanisme paguyuban warga. Suatu saat dana yang terkumpul jumlahnya cukup memadai, namun kegiatan pembangunan jalan tidak kunjung dimulai lantaran kesibukan warga. Pada kondisi ini sesungguhnya yang terjadi adalah “tidak adanya mekanisme inisiasi”, suatu mekanisme yang merubah niat menjadi tindakan.

Itu semua berubah dengan hadirnya program PNPM-MP di desa Kuwasen — juga di Jepara. PNPM-MP sungguh menjadi pemicu bagi kebangkitan serempak di kedua sisi Rt 03 Dan 04 yang menjadi batas kedua Rt itu. Mengapa ini bisa terjadi? Karena kaidah keproyekan yang memiliki batas waktu, target capaian, persyaratan teknis, telah menjadi cambuk bagi bergulirnya proses pekerjaan secara terstruktur dengan melibatkan sumberdaya dan sumberdana yang sudah ada.

Hal itu pula yang bisa menjelaskan bagaimana kontribusi bantuan langsung masyarakat (BLM) PNPM-MP yang sebesar Rp 9 juta dapat menghimpun swadaya hampir 45%

Bulan Juli 2011 pembangunan jalan mulai dilaksanakan dengan diawali rembug warga setempat untuk menyepakati teknis pelaksanaan maupun kebutuhan lainnya. Karena lokasi berada di Pojok desa yang berbeda maka disepakati dibentuk panitia pelaksana terdiri dari Warga RT 03, tokoh masyarakat, dan khalayak warga. Para ibu, kaum perempuan, termasuk gadis-gadis remaja dan juga anak2 kecil, yang piawai dalam urusan masak-memasak, terlibat sejak awal kegiatan — bahkan sebelum pekerjaan utama dimulai. Mereka mengurusi terutama konsumsi dan administrasi keuangan.

Pada pelaksanaannya disepakati bahwa setiap sisi Jalan, masing-masing, diharuskan juga untuk menyediakan atau membangun ruas jalan menuju lokasi. Demikian juga Pembersihan di kedua sisi dibangun oleh masyarakat dari masing-masing sisi. Setelah Dibersihkan siap, pembangunan badan jalan dilakukan secara bersamaan.
(Hasyim Asyari, Fastek Tim 9 PNPM MP Jepara)

Senin, 27 Juni 2011

Pengaspalan Jalan Desa Mantingan

PENGASPALAN JALAN RT 18, RW 06 DESA MANTINGAN
(Good Aksesibility For Livelyhood)



Latar belakang dari prioritas perbaikan overlay perkerasan jalan di lokasi RT 18, RW 06 Desa Mantingan adalah upaya peningkatan mutu transportasi dari aspek good aksesibility for livelyhood merupakan prasarana yang mendukung aktivitgas kehidupan dan penghidupan masyarakat sekitar khususnya dan masyarakat mantingan secara umum

aktivitas kegiatan ekonomi masyarakat mantingan umumnya adalah bergerak dibidang perdagangan dan jasa meubelair dan seni ukir. Manfaat prasarana tersebut bagi penerima manfaat dan pengguna jalan antara lain:
1. Optimalisasi waktu tempuh untuk kegiatan ekonomi masyarakat;
2. Kenyamanan berkendara bagi penerima manfaat (masyarakat);
3. Efisiensi biaya perawatan kendaraan;
4. Good aksesibility sehingga mengeliminir terjadinya kawasan atau zona kantong yang terisolir dll.

Tidak terlalu berlebihan jika hal ini mendapat perhatian lebih dari masyarakat mantingan mengingat potensi positif yang akan dicapai jika kegiatan ini terwujud, terbukti dari respon masyarakat yang menggembirakan dengan terkumpulnya dana swadaya masyarakat yang jika dinominalkan mencapai ± Rp. 38.000.000,- jika dibandingkan dengan dana stimulan BLM PNPM-Mandiri Perkotaan yang hanya Rp. 12.000.000,- prosentrase apresiasi swadaya dari masyarakat terhadap dana stimulan BLM PNPM-Mandiri Perkotaan mencapai 316%. Sedangkan dari aspek volume yang terbangun adalah 710 m dengan lebar perkerasan 2.5 m dari volume rencana 185 m dengan lebar perkerasan 2.5 m terjadi apresiasi prosentase volume mencapai 383%.

Jenis kontruksi perkerasan lapis aus yang dipilih adalah aspal hotmix dengan mekanisme penggorengan yang dilakukan dengan aduk manual dengan demikian dari BKM Gapura Sejahtera dengan KSM Tiploso Jaya telah melakukan dua lahkah strategis yaitu
1. Evisiensi biaya kontruksi;
2. Membangun kapasitas diri masyarakat dalam hal teknis pengerjaan kegiatan lingkungan (pengaspalan yang benar sesuai kaidah-kaidah teknis pelaksanaan pekerjaan)
Ini adalah potret masyarakat yang sadar dengan pentingnya impian dan cita-cita, karena cita-cita adalah motivasi untuk terus berbuat dan berinovasi untuk mencapai tujuan, embrio ini sudah terlihat di Desa Mantingan yang dimotori oleh BKM Gapura Sejahtera. Sekiranya tujuan itu belum/tidak tercapai setidaknya mereka telah berbuat, namun sekiranya mereka tidak melakukan apa-apa adalah hal sia-sia untuk bermimpi… (Rizaldi Safar, ST)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More